October 10, 2026

Jedoran, Tradisi Tua yang “Terancam” Kehilangan Pewaris

0
Screenshot_115

Blora, Lokandaru.id.- Dentuman jedor kembali terdengar di tengah masyarakat Blora. Bertempat di Musholla Al Hadi, Kauman, Jumat (09/10) kemarin, kesenian tradisional tersebut tampil dalam sebuah acara aqiqah. Suara khas jedor berpadu dengan darbuka, tung dan keprak terasa harmoni.  Dikuti lantunan syair bernuansa keagamaan, menghadirkan syahdu . Tak tampak dari 18 pemain jedoran ini yang berusia muda. Hampir semuanya berusia sepuh di atas 50 tahun. Namun, semangat dan suara sang vokalis masih memiliki power yang kuat. Terbukti mereka mampu tampil lebih dari 2 jam. Lalu, pertanyaannya  bagaimana di era milenial saat apakah tradisi ini akan ada pewarisnya?

Bagi generasi tua di Blora, Jedoran bukan kesenian asing. Namun bagi generasi muda, terutama Gen Z, suara jedor dan lantunan syairnya mulai jarang terdengar. Perubahan selera hiburan dan derasnya budaya digital membuat kesenian tradisional seperti Jedoran semakin berada di pinggir kehidupan masyarakat.

Padahal, Jedoran tidak sekadar menyuguhkan bunyi-bunyian. Di dalamnya terdapat tradisi, kebersamaan, dan nilai keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun. Syair yang dilantunkan umumnya berisi pujian kepada Allah SWT, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, doa, serta pesan-pesan kehidupan. Dalam perkembangannya, susunan maupun syair yang dibawakan bisa berbeda antarkelompok karena banyak diwariskan secara lisan.

Pemerhati budaya Blora, Madun, mengatakan Jedoran , khususnya di Blora hingga kini masih ada dan belum sepenuhnya hilang dari masyarakat. Bahkan, beberapa waktu lalu kesenian tersebut sempat mendapat ruang melalui sebuah festival. Hal itu menunjukkan bahwa Jedoran sebenarnya masih memiliki potensi untuk dikembangkan dan diperkenalkan kembali kepada masyarakat luas. “ Beberapa waktu lalu saya juga hadir acara festival, tepatnya di Randualas, Ngawen” terangnya

Namun, Madun menyoroti persoalan yang lebih serius, yakni regenerasi. Menurutnya, sebagian besar anggota kelompok Jedoran yang masih aktif saat ini merupakan kalangan sepuh. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa keberlangsungan kesenian ini tidak cukup hanya mengandalkan pemain-pemain lama.

Ia berharap generasi muda mulai tertarik untuk mengenal dan mempelajari Jedoran. Generasi muda tidak hanya perlu menjadi penonton, tetapi juga harus diberi kesempatan untuk memukul jedor, belajar lantunan syair, dan memahami nilai yang ada di balik kesenian tersebut. Dengan begitu, Jedoran tidak berhenti sebagai kenangan dari generasi tua.

“ Ancaman terbesar Jedoran menurut saya bukan semata-mata kalah bersaing dengan musik modern. Ancaman yang lebih nyata adalah ketika tidak ada lagi anak muda yang mau belajar. Ketika para pemain sepuh satu per satu berhenti, sementara tidak ada penerus yang mengambil alih, maka putus pula mata rantai tradisi yang selama ini dijaga” imbuh Madun yang juga Ketua Lesbumi PCNU Blora.

Karena itu, festival maupun pementasan Jedoran dalam acara masyarakat perlu dilihat bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi sebagai ruang regenerasi. Anak-anak muda perlu dilibatkan sejak awal, termasuk dalam mempelajari alat musik, syair, pola permainan, hingga sejarah Jedoran. Dokumentasi syair dan repertoar juga penting agar pengetahuan yang selama ini tersimpan dalam ingatan para pelaku tidak ikut hilang.

“ Ketika dentuman jedor ini berhenti, yang hilang bukan hanya sebuah kesenian. Ada bagian dari ingatan, tradisi, dan identitas budaya Blora yang ikut terancam lenyap. Kini tinggal bagaimana generasi muda menjawabnya: membiarkan Jedoran menjadi cerita masa lalu, atau ikut menabuh jedor agar suaranya tetap terdengar hingga generasi berikutnya,” pungkasnya. ( zio )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *